Emangnya kalo nggak temenan sama cowok, apaan dong? Jangan salah, di beberapa kalangan terutama pengusung ide feminisme, mereka menganggap bahwa cowok adalah rival atau saingan cewek dalam banyak hal. Cowok tuh makhluk paling nyebelin dan penjajah sedunia. Makanya, kaum feminis berusaha sok tegar hidup tanpa cowok karena mereka nggak mau dijajah sama makhluk berjenis cowok. Masa sih sampe segitunya?
Di pihak lain, ada sekelompok cewek yang ganjen bin lembeng (ini temennya ganjen loh) tergantung banget sama yang namanya cowok. Seakan-akan mereka ini nggak bakal bisa survive tanpa cowok. Cowok adalah makhluk perkasa yang akan memperlakukan mereka ibarat putri dari kahyangan. Cewek jenis ini merasa butuh dimanja dan disayang oleh cowok all the time.
Waduh, kayaknya kedua kutub di atas ekstrim banget ya. Trus, gimana sih seharusnya kamu sebagai kaum cewek kudu bersikap terhadap cowok? Lanjut aja bacanya ya.
Cowok-cewek, partner-an
Allah Swt. berfirman: “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara” (QS al-Hujuraat [49]: 10). Seorang mukmin dengan mukmin lainnya (tentu termasuk mukminah) adalah bersaudara. Jadi, laki-perempuan juga bersaudara asal mereka beriman kepada Allah SWT. Maksudnya saudara di sini bukan kayak kakak or adik kandung, tapi saudara seiman dalam Islam.
Saudara? Indah nian ungkapan ini untuk menggambarkan posisi antara laki dan perempuan, cowok dan cewek. Mereka berdua bukan musuh satu sama lain yang saling berebut pengaruh dan kekuasaan. Bila pun yang satu menjadi pemimpin terhadap yang lain, tak akan ada ungkapan ‘ya gitu itu kalo pemimpinnya laki-laki’. Masalahnya bukan laki atau perempuan, tapi aturan apa yang diterapkan dalam periode kepemimpinan itu.
Cowok adalah mitra sejajar bagi cewek. Ia tidak lebih tinggi atau pun lebih rendah daripada cewek. Memang sih, di beberapa hal cowok diberi kelebihan oleh Allah dalam hal keperkasaan fisik dan fungsi sebagai pemimpin. Meskipun demikian, perkasanya cowok bukanlah untuk menindas cewek. Begitu juga ketika ia menjadi pemimpin bukan pula untuk mendzalimi yang dipimpin.
Begitu juga bagi para cewek. Tidak lantas karena fitrahnya lembut, cewek jadi lemah dalam segala hal. Pasrah saja ketika ia didzalimi dan diperlakukan semena-mena. Kamu tahu ibunda Khaulah binti Tsa’labah yang berani menegur pemimpin negara selevel Umar bin Khaththab? Beliau ini adalah seorang wanita tua yang ketika berpapasan dengan amirul mukminin, ia berani menegur dan menasihatinya agar bertakwa di dalam memimpin umat. Tangguh banget nih cewek. Dan kamu tahu apa tanggapan Umar bin Khaththab? Ia tertunduk, mendengar dengan takzim nasihat wanita tua ini.
Bayangkan, kalo kamu sebagai cewek melakukan hal yang sama pada pak presiden atau bupati deh yang paling dekat dengan tempat tinggalmu. Kamu sebagai cewek menasihati bapak-bapak pejabat ini untuk bertakwa dengan menjalankan syariah Islam dalam naungan Khilafah. Hayooo…berani nggak?
Cowok, bukan musuh cewek
Sebelum paham Islam, saya dulu sempat berpikir bahwa cowok itu selalu mendominasi dalam kehidupan cewek. Makanya saya pingin melakukan sebaliknya. Jadi ketua kelas plus juara kelas, saya lakoni untuk membuktikan bahwa cewek juga bisa sebaik cowok dalam hal prestasi dan kepemimpinan. Kalo ngomong, saya paling ogah berlembek-lembek karena itu cuma membikin cewek terlihat ganjen dan lemah. Saya dulu sempat merasa bahwa dunia akan baik-baik saja tanpa cowok. Wiih….ekstrim banget ya?
Untunglah, ketika SMA saya insaf. Islam telah menunjukkan jalan kebenaran bagaimana kedudukan cowok dan cewek sesuai dengan tempat dan fitrahnya. Kedua makhluk ini bukan musuh satu sama lain. Tidak ada yang lebih baik di antara dua jenis ini kecuali takwanya. Iya kan?
Dengan pemahaman Islam yang benar, ide gender (baca: jender) dan feminisme nggak bakal bisa menjajah otak dan pemahaman kamu. Agama yang biasa dituding sebagai biang munculnya budaya patriarki (laki-laki dianggap yang paling unggul), selalu mengarah ke Islam, bisa kamu patahkan dengan mudah.
Memang sih pada faktanya ada beberapa ketidak-idealan dalam pelaksanaan. Salah satu teman saya ada yang curhat kalo cowok aktivis rohis itu menyebalkan. Hanya karena sedikit salah paham dengan pihak aktivis rohis cewek, mereka ‘balas dendam’. Ketika ada acara out bound ke luar kota, para cewek dicuekkin. Para cewek ini yang notabene muslimah berjilbab dan berkerudung, tidak diberi tempat wudhu yang tertutup. Mereka dibiarkan saja tanpa diurusi oleh panitia cowok. Duh…
Begitu juga yang cowok. Saya sering mendapat laporan dari kubu ini bahwa para cewek itu jahat-jahat dan suka memaksakan kehendak. Kalo maunya begini pasti minta dituruti begini. Sulit ditawar. Jadinya mereka malas berurusan dengan cewek aktivis rohis dan memilih kerja sama dengan pihak lain. Nah, loh…
Cowok itu bukan musuh cewek. Kalo pun ada cowok yang semena-mena memperlakukan cewek, itu pasti karena ia belum paham Islam dengan benar. Atau pun bila ia mengaku paham Islam, pasti ia sedang lalai. Tugas kamu sebagai saudara seiman untuk mengingatkan kalo kondisi seperti ini terjadi.
Penyebab cowok baik jadi langka
Cowok emang banyak banget bertebaran di muka bumi ini. Tapi cowok yang baik, cerdas, sopan, alim, sholeh dan hanif (lurus) kayaknya ini jenis yang hampir punah dari muka bumi ini. Ibarat mencari jarum di tumpukan jerami, cowok beginian emang nggak mudah ditemui. Tahu nggak kamu apa penyebabnya?
Yup, betul banget. Sistem Kapitalisme-Sekulerisme. Inilah biang kerok semua masalah di dunia ini. Cowok baik menjadi langka bukan tanpa sebab. Mereka ini sudah hampir punah karena sistem yang ada membuat cowok-cowok baik tak mendapat kesempatan untuk tumbuh dan berkembang. Yang menjamur malah cowok-cowok ala manekin yang oke bodinya tapi kosong otak dan imannya. Ihh…males banget kan jadinya.
Cowok tipe ini akan dengan enaknya menganggap cewek sekadar mainan untuk diperlakukan semaunya sendiri. Ini namanya cowok jadi-jadian. Karena kalo cowok beneran yang gentle, maka ia akan memperlakukan cewek dengan penuh hormat. Meskipun kuat dan perkasa, cowok akan berlaku lemah lembut pada cewek dan tidak akan menyakitinya meskipun sedikit. Masalahnya, cowok kaliber ini emang nggak mudah dicari ya? Hayo…kamu pasti lagi mengangguk-angguk tanda setuju.
Sistem rusak yang diterapkan pada kita saat ini membuat cowok-cowok nggak dewasa. Tubuh aja yang digedein tapi kepribadian dan mentalnya masih kayak baby. Usia SMP dan SMA yang seharusnya udah tahu tanggung jawab dan kewajiban, eh malah disia-siakan. Apa-apa mama, dikit-dikit papa. Nggak punya sikap dan pendirian. Udah mending begitu, nggak sedikit juga yang malah terjerumus dalam narkoba dan pergaulan bebas. Jadinya nggak asyik banget punya temen cowok model begini.
Bila saja kita mau mencampakkan sistem rusak ini ke tong sampah peradaban, bisa dipastikan cowok jadi-jadian ala manekin ini akan hilang bin raib. Sebagai gantinya, maka cowok-cowok oke akan hadir di dunia dan tipe ini nih yang asyik buat temenan. Kamu tahu sahabat Rasulullah saw. yang bernama Ali bin Abi Thalib? Cowok imut ini datang ke hadapan Rasulullah untuk menjadi umat beliau. Karena masih belum baligh, Rasulullah saw. menganjurkan untuk minta ijin dulu ke ortunya. Ali bin Abi Thalib pergi tapi tak lama kemudian ia kembali. Apa katanya?
“Ya Rasulullah, ketika Allah menciptakan aku, orang tuaku tak diminta persetujuannya. Mengapa sekarang ketika aku ingin menjadi hambaNya dan memeluk agamaNya, harus meminta ijin dulu ke orang tuaku? Sungguh, aku tak butuh ijin mereka.”
Subhanallah banget! Belum lagi cowok oke bernama Mush’ab bin Umair. Dia ini sudah tampan, kaya raya dan cerdas. Ketika nur Islam menyentuhnya, ia rela meninggalkan semua kemewahan dunia demi perjuangan dan dakwah Islam. Ini belum seberapa. Kamu tahu siapa cowok tangguh dan keren penakluk Konstnatinopel? Yup, Muhammad al Fatih namanya. Umurnya masih 24 tahun tapi sudah menjadi panglima perang yang ahli dalam siasat menaklukkan musuh. Kedekatannya pada Allah tak terkatakan lagi. Lalu ada juga Muadz bin Jabal yang tampan, menarik, bermata jeli, bergigi putih dan bila berbicara seakan-akan ada untaian cahaya dan keluar dari mulutnya. Wiih pasti jadi idola cewek mana pun.
Masih seabrek cowok-cowok oke yang jumlahnya bisa ribuan bila disebutkan satu per satu. Apa penyebab dari semua fenomena unik ini? Ternyata cowok-cowok ideal di atas cuma bisa dihasilkan oleh sebuah kondisi tertentu di mana Islam diterapkan secara sempurna sebagai ideologi. Maksudnya Islam bukan hanya ada di pojok-pojok masjid saja tanpa ada aplikasi di bidang politik, pendidikan dan pemerintahan. Karena bila Islam cuma diambil sholat, zakat, puasa dan ada di masjid saja, nggak heran bila cowok generasi Si Boy yang STMJ merebak. STMJ = Sholat Terus Maksiat Jalan, gubraks!
Cowok, teman dalam dakwah
Meskipun langka, bukan mustahil tipe cowok ini ada di sekeliling kamu. Udah tampan, cerdas, juara kelas, kaya, takwa dan aktivis dakwah. Wuih, dijamin jadi idola nih. Tapi wait! Tunggu dulu, girls. Usia kamu saat ini yang masih imut, jangan ngeres dulu mikir yang nggak-nggak ya. Seberapa okenya cowok yang ada di sekolah kamu, luruskan niat. Kamu kontak dengannya karena ada urusan dakwah atau sekolah. Bukan urusan pribadi yang nggak ada hubungannya dengan hal-hal di atas.
Nggak boleh ada acara pinjam catatan kimia padahal itu bisa kamu pinjam dari teman sesama cewek. Nggak boleh ada sok ada acara rapat padahal kamu cuma pingin melihat senyum manisnya. Walah! Ingat, bersihkan hati jangan kau kotori. Hati-hati dengan niat yang emang nggak kelihatan ikhlas nggaknya. Jangan sampai yang kamu lakukan ternyata bukan karena mengharap ridho Allah. Kamu jadi nggak bakal dapat apa-apa bila niatmu salah.
Oya, hati-hati juga dengan virus VMJ yang kerap menjangkiti pengemban dakwah. Luruskan niat. Urusanmu dengan cowok adalah sebatas berteman dan berpartner dalam kebaikan. Paling banter bersaudara dalam ikatan akidah Islam. Meskipun wajib menjalin ukhuwah, jangan kebablasan saling kunjung sana kunjung sini dengan alasan menjaga uyhuwah. Berteman dengan cowok adalah dalam rangka kemaslahatan bersama dalam lingkup sosial bukan lingkup pribadi. Ingat ini ya.
Intinya, cowok dan cewek itu emang saling melengkapi satu sama lain. Mereka diciptakan oleh Allah bukan untuk saling menyakiti atau pun menguasai satu pihak terhadap pihak yang lain. Mereka ini adalah manusia-manusia pelanjut risalah dakwah untuk memakmurkan bumi dan seisinya. Jadi, oke banget kan Islam dalam menempatkan posisi cewek dan cowok? Tentu dong. Makanya ayo kita ramai-ramai campakkan ide gender dan feminisme terus kita ambil Islam saja sebagai ideologi. Setuju? Akurrrrr..!
Jumat, 09 April 2010
The Sweetest Dream
Mimpi, ya, apa sih mimpi itu? Apakah bunga-bunga tidur yang menghiasi setiap malam ketika kita beristirahat? Mungkin mimpi ketemu doski di sekolah, mimpi ketemu sahabat kita yang lama tak berjumpa, mimpi makan blackforest yang sudah lama kita idam-idamkan ataukah mimpi-mimpi yang lain?
Itu semua memang bisa disebut mimpi. Kerja sel syaraf otak kita ketika tidur bertemu dengan pengalaman-pengalaman masa lalu atau keinginan terpendam yang belum sempat terwujud. Tapi bahasan kita bukan mimpi yang itu, boys en gals. Tapi mimpi yang bermakna cita-cita, keinginan, harapan, ambisi, dan semacam itulah. Mimpi yang berusaha kita raih dan wujudkan nyata dalam kehidupan.
Omong-omong, apa sih mimpi terindah kamu? Jangan-jangan kamu malah nggak punya mimpi. Membiarkan hidup mengalir apa adanya saja. Tanpa mimpi, tanpa cita-cita dan tanpa harapan. Eh, jangan-jangan kamu malas bermimpi lagi karena beranggapan semua mimpi-mimpi kamu adalah sia-sia dan nggak ada yang jadi kenyataan. Wah...jangan pesimis gitu dong.
Semua punya mimpi
Mimpi, siapa sih nggak punya mimpi? Pengen tajir, terkenal, pandai, sukses dan keinginan yang lainnya. Rasa ingin ini lumrah bin wajar banget ada pada diri manusia, termasuk kita-kita ini. Ah, jadi inget Om Chairil Anwar yang dalam salah satu puisinya ingin hidup seribu tahun lagi.
So, siapa sih yang boleh punya mimpi? Ehm, rasa-rasanya bukan cuma pujangga atau orang tertentu aja. Semua berhak dan boleh punya mimpi. Kaya, miskin, tua, muda, cewek, cowok, cakep, jelek, semua boleh punya mimpi. Di jaman apa-apa serba mahal ini, mimpi adalah hal dalam hidup yang gratis. Nggak perlu beli. Kita bisa bermimpi menjadi atau meraih apa pun yang kita mau tanpa takut kena pajak dan disirikkin orang.
Kamu tahu ide menciptakan pesawat terbang? Penemu ide itu, Orvilee Wright dan Wilbur Wright pernah bermimpi untuk bisa terbang. Karena nggak mungkin bagi manusia untuk punya sayap, maka dengan akalnya ia menciptakan teknologi yang memakai prinsip dasar sayap burung untuk pesawat. Bayangkan seandainya para penemu itu nggak punya mimpi dan bersikap ‘apa adanya’ aja ketika transportasi masih berupa sapi atau kuda yang menarik gerobak. Kamu nggak bakalan tahu asyiknya terbang (padahal sekarang aja saya juga belum tahu tuh rasanya naik pesawat terbang hehehe).
Kamu kenal juga kan dengan Thomas Alfa Edison? Yup, dengan mimpinya untuk menjadikan dunia lebih terang pada malam hari, ia berusaha menciptakan lampu pijar alias bohlam. Kayaknya nih, tanpa dorongan mimpi besarnya itu, mungkin aja kan kita kini masih pake obor dan lampu teplok?
Tapi yang paling hebat dan nggak ada duanya tuh mimpi Rasulullah untuk menyatukan umat dalam naungan satu sistem, Islam. Betapa beliau mengerahkan seluruh daya upaya untuk mewujudkan mimpinya. Nggak peduli dilempari batu, kotoran hewan, dan ancaman dari musuh-musuhnya, beliau maju terus pantang menyerah untuk mendobrak sistem kufur dan menggantinya dengan sistem Islam saja.
So, mimpi tiap orang pastilah tak sama. Ketika kamu mimpi ingin jadi ahli nuklir yang bertakwa tentu tak sama dengan mimpi temanmu yang ingin jadi rocker beriman ala sinetron Kiamat Sudah Dekat, misalnya. Atau kamu yang punya mimpi dapat beasiswa untuk melanjutkan sekolah sampai tinggi, eh, temanmu yang mendapat kesempatan itu di tangan, malah melepaskannya. Ada loh yang seperti ini. Ternyata ia lebih memilih menikah dan ikut suami ke lain kota daripada mengambil tuh beasiswa. Padahal yang ngiler pingin banget dapetin tuh beasiswa udah ngantri, eh...enak aja dianya melepas.
Hal ini juga sah-sah aja kok. Nggak salah. Itu karena memang mimpi tiap orang sungguh beraneka ragam. Tak sama. Jadi, mimpi itu adalah hal yang manusiawi ada pada diri kita. Bahkan, manusia yang normal mustahil hidup tanpa mimpi, cita-cita or harapan yang ingin diraih. Kamu bisa bermimpi hal-hal yang mubah seperti pingin kaya, punya rumah mewah, harta berlimpah, suami/istri cakep dan tajir dll. Atau yang agak bergengsi dikit, kamu bermimpi jadi dokter, insinyur, ahli nuklir yang bertakwa de el-el. Tapi ada juga yang mimpinya high quality dengan menjadi remaja gaul, syar’i, dan mabda’i (Ehm... ini sih motto Q dong ya?)hehe...
Kenapa harus punya mimpi?
Orang hidup tuh kudu punya mimpi. Karena manusia adalah makhluk yang dinamis. Dengan mimpi yang kita punya, ada ‘sesuatu’ yang membuat kita berusaha ingin meraihnya. Bo’ong banget kalo kamu bilang punya mimpi jadi ahli komputer tapi tak ada upaya untuk mewujudkannya. Kamu pilih habiskan waktu untuk bermalas-malasan, hura-hura menghabiskan waktu untuk nonton film, dugem, dan segala hal yang tak ada kaitannya dengan mimpimu.
Lebih lucu lagi kalau bermimpi masuk surga tapi asyik mojok berduaan dengan pacar dan tiap hari melakukan maksiat. Udah sholat cuma dua kali setahun, pas waktunya sholat Idul Fitri dan Idul Adha aja, puasa Ramadhan juga banyak batalnya. Kalo itu dilakukan sampe kamu out dari dunia ini tanpa sempet tobat, wah itu bukan mimpi masuk surga, tapi isyarat dapat tiket ke neraka secara express. Naudzubillah.
So, gimana dong supaya antara mimpi matching dengan kenyataan? Jika kamu ingin jadi ahli komputer, kamu harus menciptakan jalan ke arah sana untuk mempermudah mewujudkan mimpimu. Mulai rajin-rajin aja pegang komputer meski pinjam teman or jadi penjaga warnet misalnya. Kamu kudu cinta dan sering bergaul akrab dengan segala sesuatu yang berbau komputer. Jangan sampe kamu nggak bisa bedain yang namanya monitor dan CPU. Walah?
Begitu juga jika kamu pingin masuk surga. Tempuh semua jalan yang bisa mengantarkan kamu ke surga. Gimana caranya? Pertama banget nih: Ngaji. Sebab dengan ngaji or belajar, ibaratnya kamu dapat peta untuk menuju surga lewat jalur yang baik dan benar.
Bahkan aneh banget kalo ada orang hidup tapi tak punya mimpi. Tanpa mimpi, bagaikan sayur tanpa garam. Hambar, man! Tanpa mimpi, kamu nggak bakal punya sesuatu sebagai standar untuk diraih di masa depan. Tanpa mimpi, kamu akan jadi mayat yang hidup. Nggak ada upaya untuk memperbaiki diri dan nasib kamu.
Tanpa mimpi, kamu akan melakoni hidup ‘apa adanya’. Dalam arti yang negatif. Kamu yang sekarang merasa menjalani hidup serba sulit di era kapitalisme ini, jadi pasrah. Sudahlah BBM naik, uang saku dikurangi karena ortu juga pailit, eh...ternyata harga-harga yang lain ikut selangit. Mau beli buku mahal, jajan mahal, semua mahal. Bukan naik sih katanya, hanya menyesuaikan harga dengan kenaikan BBM. Dunia kamu jadi terasa sangat sempit. Kamu ‘pasrah jendral’ dengan kondisi tak ideal ini. Tak ada keinginan untuk mengubahnya meski barang sedikit pun. Bila hidup jadi semakin sulit dan sulit aja, bakalan cepet putus asa bagi kamu yang nggak punya mimpi untuk berubah.
Ini beda banget dengan kamu yang sedari awal sudah punya dan tahu apa mimpi-mimpinya dalam hidup. Dengan mimpi, kamu berusaha meraih yang terbaik dalam hidupmu. Mimpi ingin pintar, kamu wujudkan dengan belajar rajin. Mimpi ingin sukses, kamu ujudkan dengan kerja keras secara cerdas dan disiplin. Mimpi ingin mengubah kondisi masyarakat yang sekarat karena tak melaksanakan syariat, kamu ujudkan dengan rajin ngaji dan memahami kondisi umat sebagai langkah awal untuk perubahan.
See, dengan mimpi kamu jadi punya arah mau kemana dan ngapain dalam hidup ini. Bukan sekadar ikut arus. Kalo angin ke barat ikut ke barat, kalo angin ke timur ikut ke timur.
Dengan mimpi kamu jadi percaya diri. Di saat semua menikmati janji-janji semu demokrasi, kamu tampil cerdas dengan mencampakkannya. Di saat semua berpikir masalah bangsa ini bersumber di akhlaknya, kamu dah paham kalo itu cuma ekses or akibat sampingan dari permasalahan yang lebih mendasar, yakni tak diterapkannya Islam sebagai ideologi negara.
Dengan mimpimu, kamu punya resep yang ces pleng alias jitu untuk menyembuhkan masyarakat kita yang sakit ini. Kamu pun jadi remaja bukan yang biasa-biasa aja, tapi salah satu sosok perubah yang dengan mimpinya jadi punya nilai lebih pada semangat dan aktivitasnya di hadapan Allah. Hmm...ternyata punya mimpi bisa begitu dahsyat kan?
Mimpi yang baik dan bener
Idih...emang ada mimpi yang baik dan bener? Jelas ada dong. Ujian aja kamu ngejawabnya kudu baik dan bener, apalagi menetapkan mimpi kamu. Tanpa jawaban yang baik dan bener, pasti ujian kamu nggak lulus.
Begitu juga mimpi. Tanpa mimpi yang baik dan bener, kehidupan kamu juga pasti nggak baik dan bener. Trus, gimana sih punya mimpi baik dan bener itu?
Mimpi yang baik dan bener itu kalo ia realistis, yaitu antara mimpi-mimpi kamu dan kemampuan harus seimbang. Sesuatu yang tidak mudah dan tidak sukar untuk dicapai. Karena kalo mimpi itu mudah dicapai, kamu bakal nyepelein dan ceroboh, menganggap enteng mimpi or cita-cita kamu dalam hidup. Begitu sebaliknya. Jika kamu mempunyai mimpi yang tinggi tapi kemampuan minim, ini bisa bikin kamu putus asa. Jadi gimana dong? Kalo mimpi kamu tinggi, berarti kamu kudu mengasah kualitas diri kamu juga tinggi. Biar imbang dengan mimpi kamu, gitu loh.
Trus, ada kalanya mimpi itu bisa terwujud saat kita masih hidup. Tapi ada kalanya pula mimpi itu begitu besar sehingga butuh waktu lebih panjang daripada umur kita untuk mewujudkannya. Apalagi bila mimpi itu adalah mimpi kolektif yang dipunya oleh kaum muslimin. Wuih, keren banget kan?
Ketika Rasulullah saw. masih hidup, beliau punya ‘mimpi’ bisa menaklukkan Persia dan Romawi. Padahal Persia dan Romawi di jaman itu ibaratnya Uni Sovyet dan Amerika, super power, dibandingkan dengan negara Islam yang masih baru berdiri dan kecil.
Tapi mimpi Rasulullah bukan mimpi asal mimpi. Meski beliau tak sempat menyaksikan ditundukkannya kedua negara adidaya itu, tapi Muhammad al-Fatih mewujudkan mimpi Rasulullah menjadi nyata ketika menaklukkan Konstantinopel alias Byzantium yang merupakan pusat kekaisaran Romawi Timur pada 1453 M (857 H).
Sobat, Muhammad al-Fatih, pemimpin para pemuda yang usianya belum genap 23 tahun telah dimuliakan oleh Allah melalui pujian Rasulullah saw. sebagai pembebas Konstantinopel: “Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin (yang membebaskan) Konstatinopel dan sebaik-baik tentara adalah tentaranya.” (HR Ahmad)
Nah, sekarang tinggal Roma (Vatikan), yang belum ditaklukkan. Semoga kita semua bisa membebaskannya dari kekufuran dan menjadikannya wilayah Islam. Siap?
Bila iya, maka kamu pasti punya mimpi (baca: keinginan) yang sama dengan mimpi Rasulullah. Mimpi ingin mengembalikan kehidupan Islam dengan syariah dan Khilafah. Mimpi ini begitu besar dan mulia. Sejak diruntuhkannya institusi kekhilafahan Islam pada 3 Maret 1924 lalu, kaum muslimin yang sadar kewajiban untuk menegakkannya lagi, bermimpi or bercita-cita bisa hidup mulia dalam naungan Khilafah Islam.
Bagi sebagian orang yang tak tahu bagaimana cara menempuhnya secara riil dan gamblang, maka mereka berpikir mimpi ini adalah mimpi yang utopis, sia-sia or cuma khayalan. Tapi bagi yang tahu dengan jelas langkah-langkah apa yang kudu ditempuh, hambatan apa saja yang menghadang, peluang-peluang yang harus diciptakan, tentu merasa yakin sekali bahwa Khilafah Islam hanya tunggu waktu. Apalagi bila pertolongan Allah sudah berbicara, udah deh, siapa yang bakal bisa membendungnya?
So, jangan takut untuk bermimpi yang tinggi. Apalagi kalo mimpi itu sesuai banget dengan mimpi yang dipunya Rasulullah tercinta. Jadi kalo ada yang bertanya “what’s your sweetest dream?” Jawab dengan yakin, “Tegaknya Khilafah Islamiyah”, tentu. Tetap semangat!!!
Itu semua memang bisa disebut mimpi. Kerja sel syaraf otak kita ketika tidur bertemu dengan pengalaman-pengalaman masa lalu atau keinginan terpendam yang belum sempat terwujud. Tapi bahasan kita bukan mimpi yang itu, boys en gals. Tapi mimpi yang bermakna cita-cita, keinginan, harapan, ambisi, dan semacam itulah. Mimpi yang berusaha kita raih dan wujudkan nyata dalam kehidupan.
Omong-omong, apa sih mimpi terindah kamu? Jangan-jangan kamu malah nggak punya mimpi. Membiarkan hidup mengalir apa adanya saja. Tanpa mimpi, tanpa cita-cita dan tanpa harapan. Eh, jangan-jangan kamu malas bermimpi lagi karena beranggapan semua mimpi-mimpi kamu adalah sia-sia dan nggak ada yang jadi kenyataan. Wah...jangan pesimis gitu dong.
Semua punya mimpi
Mimpi, siapa sih nggak punya mimpi? Pengen tajir, terkenal, pandai, sukses dan keinginan yang lainnya. Rasa ingin ini lumrah bin wajar banget ada pada diri manusia, termasuk kita-kita ini. Ah, jadi inget Om Chairil Anwar yang dalam salah satu puisinya ingin hidup seribu tahun lagi.
So, siapa sih yang boleh punya mimpi? Ehm, rasa-rasanya bukan cuma pujangga atau orang tertentu aja. Semua berhak dan boleh punya mimpi. Kaya, miskin, tua, muda, cewek, cowok, cakep, jelek, semua boleh punya mimpi. Di jaman apa-apa serba mahal ini, mimpi adalah hal dalam hidup yang gratis. Nggak perlu beli. Kita bisa bermimpi menjadi atau meraih apa pun yang kita mau tanpa takut kena pajak dan disirikkin orang.
Kamu tahu ide menciptakan pesawat terbang? Penemu ide itu, Orvilee Wright dan Wilbur Wright pernah bermimpi untuk bisa terbang. Karena nggak mungkin bagi manusia untuk punya sayap, maka dengan akalnya ia menciptakan teknologi yang memakai prinsip dasar sayap burung untuk pesawat. Bayangkan seandainya para penemu itu nggak punya mimpi dan bersikap ‘apa adanya’ aja ketika transportasi masih berupa sapi atau kuda yang menarik gerobak. Kamu nggak bakalan tahu asyiknya terbang (padahal sekarang aja saya juga belum tahu tuh rasanya naik pesawat terbang hehehe).
Kamu kenal juga kan dengan Thomas Alfa Edison? Yup, dengan mimpinya untuk menjadikan dunia lebih terang pada malam hari, ia berusaha menciptakan lampu pijar alias bohlam. Kayaknya nih, tanpa dorongan mimpi besarnya itu, mungkin aja kan kita kini masih pake obor dan lampu teplok?
Tapi yang paling hebat dan nggak ada duanya tuh mimpi Rasulullah untuk menyatukan umat dalam naungan satu sistem, Islam. Betapa beliau mengerahkan seluruh daya upaya untuk mewujudkan mimpinya. Nggak peduli dilempari batu, kotoran hewan, dan ancaman dari musuh-musuhnya, beliau maju terus pantang menyerah untuk mendobrak sistem kufur dan menggantinya dengan sistem Islam saja.
So, mimpi tiap orang pastilah tak sama. Ketika kamu mimpi ingin jadi ahli nuklir yang bertakwa tentu tak sama dengan mimpi temanmu yang ingin jadi rocker beriman ala sinetron Kiamat Sudah Dekat, misalnya. Atau kamu yang punya mimpi dapat beasiswa untuk melanjutkan sekolah sampai tinggi, eh, temanmu yang mendapat kesempatan itu di tangan, malah melepaskannya. Ada loh yang seperti ini. Ternyata ia lebih memilih menikah dan ikut suami ke lain kota daripada mengambil tuh beasiswa. Padahal yang ngiler pingin banget dapetin tuh beasiswa udah ngantri, eh...enak aja dianya melepas.
Hal ini juga sah-sah aja kok. Nggak salah. Itu karena memang mimpi tiap orang sungguh beraneka ragam. Tak sama. Jadi, mimpi itu adalah hal yang manusiawi ada pada diri kita. Bahkan, manusia yang normal mustahil hidup tanpa mimpi, cita-cita or harapan yang ingin diraih. Kamu bisa bermimpi hal-hal yang mubah seperti pingin kaya, punya rumah mewah, harta berlimpah, suami/istri cakep dan tajir dll. Atau yang agak bergengsi dikit, kamu bermimpi jadi dokter, insinyur, ahli nuklir yang bertakwa de el-el. Tapi ada juga yang mimpinya high quality dengan menjadi remaja gaul, syar’i, dan mabda’i (Ehm... ini sih motto Q dong ya?)hehe...
Kenapa harus punya mimpi?
Orang hidup tuh kudu punya mimpi. Karena manusia adalah makhluk yang dinamis. Dengan mimpi yang kita punya, ada ‘sesuatu’ yang membuat kita berusaha ingin meraihnya. Bo’ong banget kalo kamu bilang punya mimpi jadi ahli komputer tapi tak ada upaya untuk mewujudkannya. Kamu pilih habiskan waktu untuk bermalas-malasan, hura-hura menghabiskan waktu untuk nonton film, dugem, dan segala hal yang tak ada kaitannya dengan mimpimu.
Lebih lucu lagi kalau bermimpi masuk surga tapi asyik mojok berduaan dengan pacar dan tiap hari melakukan maksiat. Udah sholat cuma dua kali setahun, pas waktunya sholat Idul Fitri dan Idul Adha aja, puasa Ramadhan juga banyak batalnya. Kalo itu dilakukan sampe kamu out dari dunia ini tanpa sempet tobat, wah itu bukan mimpi masuk surga, tapi isyarat dapat tiket ke neraka secara express. Naudzubillah.
So, gimana dong supaya antara mimpi matching dengan kenyataan? Jika kamu ingin jadi ahli komputer, kamu harus menciptakan jalan ke arah sana untuk mempermudah mewujudkan mimpimu. Mulai rajin-rajin aja pegang komputer meski pinjam teman or jadi penjaga warnet misalnya. Kamu kudu cinta dan sering bergaul akrab dengan segala sesuatu yang berbau komputer. Jangan sampe kamu nggak bisa bedain yang namanya monitor dan CPU. Walah?
Begitu juga jika kamu pingin masuk surga. Tempuh semua jalan yang bisa mengantarkan kamu ke surga. Gimana caranya? Pertama banget nih: Ngaji. Sebab dengan ngaji or belajar, ibaratnya kamu dapat peta untuk menuju surga lewat jalur yang baik dan benar.
Bahkan aneh banget kalo ada orang hidup tapi tak punya mimpi. Tanpa mimpi, bagaikan sayur tanpa garam. Hambar, man! Tanpa mimpi, kamu nggak bakal punya sesuatu sebagai standar untuk diraih di masa depan. Tanpa mimpi, kamu akan jadi mayat yang hidup. Nggak ada upaya untuk memperbaiki diri dan nasib kamu.
Tanpa mimpi, kamu akan melakoni hidup ‘apa adanya’. Dalam arti yang negatif. Kamu yang sekarang merasa menjalani hidup serba sulit di era kapitalisme ini, jadi pasrah. Sudahlah BBM naik, uang saku dikurangi karena ortu juga pailit, eh...ternyata harga-harga yang lain ikut selangit. Mau beli buku mahal, jajan mahal, semua mahal. Bukan naik sih katanya, hanya menyesuaikan harga dengan kenaikan BBM. Dunia kamu jadi terasa sangat sempit. Kamu ‘pasrah jendral’ dengan kondisi tak ideal ini. Tak ada keinginan untuk mengubahnya meski barang sedikit pun. Bila hidup jadi semakin sulit dan sulit aja, bakalan cepet putus asa bagi kamu yang nggak punya mimpi untuk berubah.
Ini beda banget dengan kamu yang sedari awal sudah punya dan tahu apa mimpi-mimpinya dalam hidup. Dengan mimpi, kamu berusaha meraih yang terbaik dalam hidupmu. Mimpi ingin pintar, kamu wujudkan dengan belajar rajin. Mimpi ingin sukses, kamu ujudkan dengan kerja keras secara cerdas dan disiplin. Mimpi ingin mengubah kondisi masyarakat yang sekarat karena tak melaksanakan syariat, kamu ujudkan dengan rajin ngaji dan memahami kondisi umat sebagai langkah awal untuk perubahan.
See, dengan mimpi kamu jadi punya arah mau kemana dan ngapain dalam hidup ini. Bukan sekadar ikut arus. Kalo angin ke barat ikut ke barat, kalo angin ke timur ikut ke timur.
Dengan mimpi kamu jadi percaya diri. Di saat semua menikmati janji-janji semu demokrasi, kamu tampil cerdas dengan mencampakkannya. Di saat semua berpikir masalah bangsa ini bersumber di akhlaknya, kamu dah paham kalo itu cuma ekses or akibat sampingan dari permasalahan yang lebih mendasar, yakni tak diterapkannya Islam sebagai ideologi negara.
Dengan mimpimu, kamu punya resep yang ces pleng alias jitu untuk menyembuhkan masyarakat kita yang sakit ini. Kamu pun jadi remaja bukan yang biasa-biasa aja, tapi salah satu sosok perubah yang dengan mimpinya jadi punya nilai lebih pada semangat dan aktivitasnya di hadapan Allah. Hmm...ternyata punya mimpi bisa begitu dahsyat kan?
Mimpi yang baik dan bener
Idih...emang ada mimpi yang baik dan bener? Jelas ada dong. Ujian aja kamu ngejawabnya kudu baik dan bener, apalagi menetapkan mimpi kamu. Tanpa jawaban yang baik dan bener, pasti ujian kamu nggak lulus.
Begitu juga mimpi. Tanpa mimpi yang baik dan bener, kehidupan kamu juga pasti nggak baik dan bener. Trus, gimana sih punya mimpi baik dan bener itu?
Mimpi yang baik dan bener itu kalo ia realistis, yaitu antara mimpi-mimpi kamu dan kemampuan harus seimbang. Sesuatu yang tidak mudah dan tidak sukar untuk dicapai. Karena kalo mimpi itu mudah dicapai, kamu bakal nyepelein dan ceroboh, menganggap enteng mimpi or cita-cita kamu dalam hidup. Begitu sebaliknya. Jika kamu mempunyai mimpi yang tinggi tapi kemampuan minim, ini bisa bikin kamu putus asa. Jadi gimana dong? Kalo mimpi kamu tinggi, berarti kamu kudu mengasah kualitas diri kamu juga tinggi. Biar imbang dengan mimpi kamu, gitu loh.
Trus, ada kalanya mimpi itu bisa terwujud saat kita masih hidup. Tapi ada kalanya pula mimpi itu begitu besar sehingga butuh waktu lebih panjang daripada umur kita untuk mewujudkannya. Apalagi bila mimpi itu adalah mimpi kolektif yang dipunya oleh kaum muslimin. Wuih, keren banget kan?
Ketika Rasulullah saw. masih hidup, beliau punya ‘mimpi’ bisa menaklukkan Persia dan Romawi. Padahal Persia dan Romawi di jaman itu ibaratnya Uni Sovyet dan Amerika, super power, dibandingkan dengan negara Islam yang masih baru berdiri dan kecil.
Tapi mimpi Rasulullah bukan mimpi asal mimpi. Meski beliau tak sempat menyaksikan ditundukkannya kedua negara adidaya itu, tapi Muhammad al-Fatih mewujudkan mimpi Rasulullah menjadi nyata ketika menaklukkan Konstantinopel alias Byzantium yang merupakan pusat kekaisaran Romawi Timur pada 1453 M (857 H).
Sobat, Muhammad al-Fatih, pemimpin para pemuda yang usianya belum genap 23 tahun telah dimuliakan oleh Allah melalui pujian Rasulullah saw. sebagai pembebas Konstantinopel: “Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin (yang membebaskan) Konstatinopel dan sebaik-baik tentara adalah tentaranya.” (HR Ahmad)
Nah, sekarang tinggal Roma (Vatikan), yang belum ditaklukkan. Semoga kita semua bisa membebaskannya dari kekufuran dan menjadikannya wilayah Islam. Siap?
Bila iya, maka kamu pasti punya mimpi (baca: keinginan) yang sama dengan mimpi Rasulullah. Mimpi ingin mengembalikan kehidupan Islam dengan syariah dan Khilafah. Mimpi ini begitu besar dan mulia. Sejak diruntuhkannya institusi kekhilafahan Islam pada 3 Maret 1924 lalu, kaum muslimin yang sadar kewajiban untuk menegakkannya lagi, bermimpi or bercita-cita bisa hidup mulia dalam naungan Khilafah Islam.
Bagi sebagian orang yang tak tahu bagaimana cara menempuhnya secara riil dan gamblang, maka mereka berpikir mimpi ini adalah mimpi yang utopis, sia-sia or cuma khayalan. Tapi bagi yang tahu dengan jelas langkah-langkah apa yang kudu ditempuh, hambatan apa saja yang menghadang, peluang-peluang yang harus diciptakan, tentu merasa yakin sekali bahwa Khilafah Islam hanya tunggu waktu. Apalagi bila pertolongan Allah sudah berbicara, udah deh, siapa yang bakal bisa membendungnya?
So, jangan takut untuk bermimpi yang tinggi. Apalagi kalo mimpi itu sesuai banget dengan mimpi yang dipunya Rasulullah tercinta. Jadi kalo ada yang bertanya “what’s your sweetest dream?” Jawab dengan yakin, “Tegaknya Khilafah Islamiyah”, tentu. Tetap semangat!!!
Minggu, 23 Agustus 2009
Meraih cinta di bulan Ramadhan
Rasa-rasanya nggak ada deh orang yang nggak mau dicintai. Saya yakin kita semua pengen dicintai. Karena ketika dicintai seseorang, insya Allah akan tumbuh rasa percaya diri. Cinta juga akan memberikan rasa pasti dalam diri kita bahwa kita diakui sekaligus dihargai. Nggak kebayang banget kan kalo kita dimusuhin temen. Percaya diri kita bakalan drop banget. Mau ketemu orang tersebut jadi minder, dan mungkin malah takut. Terus, jelas aja kalo kita dimusuhi berarti nggak diterima oleh teman kita itu. Artinya, kita nggak diakui dan dihargai. Wuih, merana banget euy!
Sobat muda muslim, ngomongin cinta di bulan Ramadhan ini, tentunya yang kepikiran sama kita adalah, bagaimana meraih cinta Allah di bulan yang penuh berkah ini. Iya kan? Saya ingin memfokuskan pembahasannya ke sini. Karena di bulan Ramadhan ini, Allah Ta’ala benar-benar obral pahala. Dia memberikan cintaNya kepada kita semua, yang insya Allah adalah orang-orang yang beriman, dengan beragam kesempatan untuk mengumpulkan pahala di bulan yang penuh rahmat dan ampunan ini. Itu sebabnya, aneh banget deh kalo kita nggak berusaha meraih cintaNya itu.
Jujur saja, jika kita ingin meraih cinta dari teman kita, katakanlah yang lawan jenis. Pasti kita akan memoles segala apa yang kita miliki agar bisa dilihat oleh orang yang diharapkan bisa memberikan cintanya kepada kita. Abis-abisan kita dandan, dan jor-joran banget tampil sesempurna mungkin untuk meraih cintanya. Cinta yang akan membuat kita merasa percaya diri, diakui, dan sekaligus dihargai.
Beragam lagu tentang cinta antar lawan jenis saja bukan hanya begitu indah didengar, tapi juga dirasakan. Gimana nggak, banyak pencipta lagu cinta yang memasukkan emosinya ketika membuat lagu. Sehingga tak terasa sudah mencengkeram emosi kita sejak pertama kali mendengarkan lagu cinta itu.
Maka, jika Radja bersenandung, “Aku tak ingin melupakanmu, aku tak ingin meninggalkanmu…” dalam salah satu lagu cintanya, yang kepikiran sama kita adalah bagaimana perasaan seseorang yang sedang jatuh cinta itu nggak mau terpisah sedetik pun dari sang kekasih pujaan hatinya. Bahkan bila mungkin akan terus menyalakan sinyal cintanya, agar amplitudo gelombang hati masing-masing saling berinterfensi.
Nah, jika di Ramadhan ini kita ingin meraih cinta dari Allah Swt., maka seharusnya dan mungkin lebih dari apa yang disenandungkan Radja dalam lagunya tersebut. Tentu kita ingin banget meraih ridho Allah en ngedapetin cintaNya di bulan penuh berkah, rahmat, dan ampunan. Itu sebabnya, amat wajar jika kita berusaha memperbaiki diri kita. Pikiran dan perasaan kita difokuskan untuk melakukan sesuatu yang diinginkan Allah Swt. Perbuatan yang bisa mendapatkan ridho dan cintaNya. Betul nggak sih?
Jangan sampe deh, kita ‘pinter kodek’ alias pengen enak sendiri. Iya, kita pengen dapetin cinta dari Allah Swt., tapi kita sama sekali ogah ngelakuin apa yang Allah perintahkan. Gimana bakalan bisa ngeraih cintanya. Itu sama saja dengan niat kita ingin ditaksir orang yang kita idamkan, tapi kita nggak berusaha menampilkan diri kita agar bisa dilirik oleh orang yang kita harapkan akan memberikan cinta kepada kita. Mimpi kali yee?
Sobat muda muslim, rasanya pantes banget deh kalo kita mati-matian berusaha untuk ngedapetin cintaNya di bulan yang terbaik dari bulan-bulan lainnya dalam kalender hijriah ini. Sayang banget kan kita lewati begitu saja bulan penuh bonus pahala ini. Kita yakin banget deh, jika memang kita nyadar, pasti bakalan ngerahin segala daya dan upaya biar kita bisa dapetin kesempatan meraih pahala yang udah disebar karena cinta Allah Swt. kepada kita. Iya nggak seh?
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Allah akan membukakan pintu-pintu surga dan menutup pintu neraka. Itu artinya, Allah memberi kesempatan kepada kita untuk berbuat lebih banyak dalam mengumpulkan pahala. Sabda Rasulullah saw.: Apabila tiba bulan Ramadan, dibuka pintu-pintu Surga dan ditutup pintu-pintu Neraka serta syaitan-syaitan dibelenggu (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam sebuah hadis qudsiy Rasulullah saw. bersabda: Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, bau mulut orang berpuasa benar-benar lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kesturi. Dia meninggalkan makanannya, minumannya, syahwatnya semata-mata karena Aku. Puasa itu adalah bagiKu. Dan Aku sendirilah yang akan memberikan pahalanya. Dan kebajikan (pada bulan Ramadhan) diberi pahala dengan sepuluh kali lipat kebajikan yang semisalnya. (HR Bukhari dari Abu Hurayrah)
Cinta tapi error
Aduuuh.. parah nggak sih, kalo cinta tapi eror? Saya sih nggak mau nuduh-nuduh sama kamu. Nggak mau juga nuding-nuding siapa aja yang emang eror.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata eror yang diambil dari bahasa Inggris (error) ini bermakna: kesalahan teratur, terjadi dalam pemerolehan atau belajar bahasa. Bisa juga masuk dalam istilah hukum dengan makna: kesesatan yang dapat menjadikan batalnya suatu perjanjian jika menyangkut sifat pokok benda yang diperjanjikan.
Oke deh, kita nggak bakalan ngebahas lebih lanjut soal bahasa tersebut. Kita maknai saja secara sederhana bahwa eror atau error itu sebagai kesalahan. Nah, kalo ngomongin cinta tapi eror, berarti cinta yang salah. Cinta yang keliru. Kita cinta tapi salah atau keliru dalam memaknai cinta dan cara mendapatkan cinta tersebut. Malah, bisa jadi kita cinta tapi nggak nyambung dengan upaya untuk mendapatkan cinta tersebut.
Ambil contoh kayak sekarang nih, saya yakin banyak banget dari kita yang berusaha dan berlomba untuk meraih cinta di bulan Ramadhan ini, tapi kayaknya juga nggak tahu caranya untuk meraih cinta tersebut. Sebagian mungkin bukan lagi nggak tahu, tapi nggak mau tahu. Wah, gaswat itu namanya. Ada yang puasa biar dapet pahala. Rela menahan rasa lapar dan haus. Bela-belain nggak melakukan kegiatan berat dan bahkan minta ditambah jatah tidur. Tapi lisannya sering nyakitin orang, lidahnya dipake ngegosip alias ngomongin kejelekan orang, bahkan aktivitas pacaran tetep dilakuin meski dikurangi frekuensi ketemuannya. Lha, itu sih, ngelaksanain satu kewajiban sambil melanggar larangan lainnya.
Orang yang pacaran emang nggak batal puasanya, kecuali pas pacaran mereka makan dan minum. Batal puasanya karena makan dan minum di siang hari. Tapi aktivitas pacaran bisa mengurangi pahala kita. Itu sebabnya, Rasulullah saw. bersabda: “Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi mereka tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga” (HR Ahmad)
Rugi banget! Rugi abis! Nggak mau dong kita cuma dapetin lapar dan haus aja. Padahal, puasa itu seharusnya menjadikan kita yang melaksanakannya mendapat predikat orang-orang yang bertakwa. Allah Swt. berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS al-Baqarah [2]: 183)
Mana mungkin bisa ngedapetin segala yang diberikan Allah Swt. jika kita nggak ngikutin prosedur yang ditetapkan oleh Allah Swt. untuk meraih cintaNya? Plis deh.
Kalo kita pengen dapetin pahala di bulan Ramadhan karena cinta kita kepada Allah Swt., maka untuk ngedapetin segala yang Allah berikan buat kita karena cintaNya kepada kita, tentunya kita harus meraihnya dengan aturan yang sudah dijelaskan melalui tuntunan Allah dan RasulNya. Kalo nggak, pasti cinta kita eror deh. Tul nggak?
Allah sayang banget sama kita
Sobat muda muslim, alhamdulillah sampai juga kita di Ramadhan ini. Bulan yang setiap harinya Allah berikan kemudahan bagi kita untuk meraih pahala yang sudah disiapkan untuk kita. Pahala yang banyak. Ampunan yang besar. Bahkan di bulan ini pun Allah memberikan ‘super bonus’ dengan diturunkannya Malam Kemuliaan alias “Lailatul Qodar”. Jika kita mendapatkannya dan ketika itu kita sedang beribadah kepada Allah Swt., insya Allah pahala kita layaknya orang yang beribadah selama 1000 bulan. Subhanallah.
Allah Swt. berfirman (yang artinya): Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS al-Qadr [97]: 1-5)
Abu Hurayrah ra berkata, bersabda Rasulullah saw.:”Siapa saja yang bangun pada malam Qadr karena dorongan iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosanya yang lalu.” (HR Bukhari, Muslim)
Lailatul Qadr adalah malam yang penuh berkah dan rahmat dari Allah Swt. Oya, Qadr itu punya makna al-Manzilah yang artinya kedudukan atau derajat. Selain itu qadr juga bermakna asy-Syarif dengan arti kemuliaan. Tuh catet lho. Jangan lupa ya…
Abu Bakar al-Warraq menjelaskan tentang kenapa dinamai dengan Lailatul Qadr, beliau menyebutkan bahwa alasannya adalah karena pada malam tersebut diturunkan sebuah kitab yang mempunyai Qadr (kemuliaan) oleh malaikat yang mempunyai Qadr, kepada Rasulullah saw. yang mulai dan untuk umat yang mulia pula. Subhanallah...
Entah, jika tidak ada Ramadhan, mungkin kita kebingungan gimana caranya ngebersihin diri kita yang banyak dosa ini. Ini sekaligus menunjukkan bahwa Allah Swt. tuh sayang banget sama kita, kaum muslimin. Karena dengan Ramadhan, kita bisa berlomba meraih pahala yang tebarkan karena kecintaan Allah Swt. kepada orang-orang yang beriman. Dan, ada nilai plus lagi buat kita. Mumpung diberikan kesempatan untuk menikmatinya, kita harus mengerahkan segala daya upaya agar bisa meraih cintaNya. Agar kita menjadi orang-orang yang bertakwa kepadaNya. So, nggak jaman lagi kalo ada di antara kita yang nggak puasa, udah ketinggalan jaman kalo ada kita-kita yang puasanya getol tapi pacarannya juga hot. Semoga kita terhindar dari segala perbuatan maksiat yang bisa mengurangi atau bahkan membakar pahala puasa kita jadi abu. Naudzubillahi min dzalik.
Sobat muda muslim, Emang sih, kalo maksiat, meski di luar bulan Ramadhan tetep nggak boleh. Tepatnya apapun jenis perbuatan maksiatnya, tetep haram untuk dilakukan. Lebih-lebih di bulan Ramadhan, kayaknya lebih nggak pantes lagi kalo itu dilakukan. Tul nggak? Itu sebabnya, jangan nekatz untuk melakukan maksiat.
Kalo puasa nggak menjadikan kita mawas diri, nggak menjadikan kita malu, bahkan nggak menjadikan kita jadi anak shaleh, itu berarti ada “apa-apanya”. Sebab, seharusnya kan puasa bisa menjadi perisai kita dari berbuat yang nggak bener. Puasa adalah tameng kita.
Sabda Rasulullah saw.: Puasa adalah perisai (dari api neraka). Jika seseorang di antara kalian berpuasa, janganlah berkata kotor dan bertengkar. Jika dimaki-maki orang lain, katakanlah: ‘Saya sedang berpuasa’ (HR Bukhari)
Diriwayatkan pula dari Abu Hurayrah r.a.: Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa tidak meninggalkan dusta dan berbuat buruk pada bulan Ramadhan, Allah tidak butuh kepada usahanya meninggalkan makan dan minum. (HR Bukhari)
Nah lho. Hadis ini memberikan sinyal buat kita, bahwa kalo kita masih tetep kuat maksiat meski sedang puasa, maka jangan harap kalo puasa kita mendapat berkah dari Allah Swt. Ih, naudzubillahi min dzalik.
Oke deh, karena Allah Swt sayang banget sama kita, maka sudah sepantasnya kita berusaha utuk meraih cintaNya di bulan Ramadhan ini. Insya Allah kita bisa. [solihin: sholihin@gmx.net]
Sobat muda muslim, ngomongin cinta di bulan Ramadhan ini, tentunya yang kepikiran sama kita adalah, bagaimana meraih cinta Allah di bulan yang penuh berkah ini. Iya kan? Saya ingin memfokuskan pembahasannya ke sini. Karena di bulan Ramadhan ini, Allah Ta’ala benar-benar obral pahala. Dia memberikan cintaNya kepada kita semua, yang insya Allah adalah orang-orang yang beriman, dengan beragam kesempatan untuk mengumpulkan pahala di bulan yang penuh rahmat dan ampunan ini. Itu sebabnya, aneh banget deh kalo kita nggak berusaha meraih cintaNya itu.
Jujur saja, jika kita ingin meraih cinta dari teman kita, katakanlah yang lawan jenis. Pasti kita akan memoles segala apa yang kita miliki agar bisa dilihat oleh orang yang diharapkan bisa memberikan cintanya kepada kita. Abis-abisan kita dandan, dan jor-joran banget tampil sesempurna mungkin untuk meraih cintanya. Cinta yang akan membuat kita merasa percaya diri, diakui, dan sekaligus dihargai.
Beragam lagu tentang cinta antar lawan jenis saja bukan hanya begitu indah didengar, tapi juga dirasakan. Gimana nggak, banyak pencipta lagu cinta yang memasukkan emosinya ketika membuat lagu. Sehingga tak terasa sudah mencengkeram emosi kita sejak pertama kali mendengarkan lagu cinta itu.
Maka, jika Radja bersenandung, “Aku tak ingin melupakanmu, aku tak ingin meninggalkanmu…” dalam salah satu lagu cintanya, yang kepikiran sama kita adalah bagaimana perasaan seseorang yang sedang jatuh cinta itu nggak mau terpisah sedetik pun dari sang kekasih pujaan hatinya. Bahkan bila mungkin akan terus menyalakan sinyal cintanya, agar amplitudo gelombang hati masing-masing saling berinterfensi.
Nah, jika di Ramadhan ini kita ingin meraih cinta dari Allah Swt., maka seharusnya dan mungkin lebih dari apa yang disenandungkan Radja dalam lagunya tersebut. Tentu kita ingin banget meraih ridho Allah en ngedapetin cintaNya di bulan penuh berkah, rahmat, dan ampunan. Itu sebabnya, amat wajar jika kita berusaha memperbaiki diri kita. Pikiran dan perasaan kita difokuskan untuk melakukan sesuatu yang diinginkan Allah Swt. Perbuatan yang bisa mendapatkan ridho dan cintaNya. Betul nggak sih?
Jangan sampe deh, kita ‘pinter kodek’ alias pengen enak sendiri. Iya, kita pengen dapetin cinta dari Allah Swt., tapi kita sama sekali ogah ngelakuin apa yang Allah perintahkan. Gimana bakalan bisa ngeraih cintanya. Itu sama saja dengan niat kita ingin ditaksir orang yang kita idamkan, tapi kita nggak berusaha menampilkan diri kita agar bisa dilirik oleh orang yang kita harapkan akan memberikan cinta kepada kita. Mimpi kali yee?
Sobat muda muslim, rasanya pantes banget deh kalo kita mati-matian berusaha untuk ngedapetin cintaNya di bulan yang terbaik dari bulan-bulan lainnya dalam kalender hijriah ini. Sayang banget kan kita lewati begitu saja bulan penuh bonus pahala ini. Kita yakin banget deh, jika memang kita nyadar, pasti bakalan ngerahin segala daya dan upaya biar kita bisa dapetin kesempatan meraih pahala yang udah disebar karena cinta Allah Swt. kepada kita. Iya nggak seh?
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Allah akan membukakan pintu-pintu surga dan menutup pintu neraka. Itu artinya, Allah memberi kesempatan kepada kita untuk berbuat lebih banyak dalam mengumpulkan pahala. Sabda Rasulullah saw.: Apabila tiba bulan Ramadan, dibuka pintu-pintu Surga dan ditutup pintu-pintu Neraka serta syaitan-syaitan dibelenggu (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam sebuah hadis qudsiy Rasulullah saw. bersabda: Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, bau mulut orang berpuasa benar-benar lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kesturi. Dia meninggalkan makanannya, minumannya, syahwatnya semata-mata karena Aku. Puasa itu adalah bagiKu. Dan Aku sendirilah yang akan memberikan pahalanya. Dan kebajikan (pada bulan Ramadhan) diberi pahala dengan sepuluh kali lipat kebajikan yang semisalnya. (HR Bukhari dari Abu Hurayrah)
Cinta tapi error
Aduuuh.. parah nggak sih, kalo cinta tapi eror? Saya sih nggak mau nuduh-nuduh sama kamu. Nggak mau juga nuding-nuding siapa aja yang emang eror.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata eror yang diambil dari bahasa Inggris (error) ini bermakna: kesalahan teratur, terjadi dalam pemerolehan atau belajar bahasa. Bisa juga masuk dalam istilah hukum dengan makna: kesesatan yang dapat menjadikan batalnya suatu perjanjian jika menyangkut sifat pokok benda yang diperjanjikan.
Oke deh, kita nggak bakalan ngebahas lebih lanjut soal bahasa tersebut. Kita maknai saja secara sederhana bahwa eror atau error itu sebagai kesalahan. Nah, kalo ngomongin cinta tapi eror, berarti cinta yang salah. Cinta yang keliru. Kita cinta tapi salah atau keliru dalam memaknai cinta dan cara mendapatkan cinta tersebut. Malah, bisa jadi kita cinta tapi nggak nyambung dengan upaya untuk mendapatkan cinta tersebut.
Ambil contoh kayak sekarang nih, saya yakin banyak banget dari kita yang berusaha dan berlomba untuk meraih cinta di bulan Ramadhan ini, tapi kayaknya juga nggak tahu caranya untuk meraih cinta tersebut. Sebagian mungkin bukan lagi nggak tahu, tapi nggak mau tahu. Wah, gaswat itu namanya. Ada yang puasa biar dapet pahala. Rela menahan rasa lapar dan haus. Bela-belain nggak melakukan kegiatan berat dan bahkan minta ditambah jatah tidur. Tapi lisannya sering nyakitin orang, lidahnya dipake ngegosip alias ngomongin kejelekan orang, bahkan aktivitas pacaran tetep dilakuin meski dikurangi frekuensi ketemuannya. Lha, itu sih, ngelaksanain satu kewajiban sambil melanggar larangan lainnya.
Orang yang pacaran emang nggak batal puasanya, kecuali pas pacaran mereka makan dan minum. Batal puasanya karena makan dan minum di siang hari. Tapi aktivitas pacaran bisa mengurangi pahala kita. Itu sebabnya, Rasulullah saw. bersabda: “Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi mereka tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga” (HR Ahmad)
Rugi banget! Rugi abis! Nggak mau dong kita cuma dapetin lapar dan haus aja. Padahal, puasa itu seharusnya menjadikan kita yang melaksanakannya mendapat predikat orang-orang yang bertakwa. Allah Swt. berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS al-Baqarah [2]: 183)
Mana mungkin bisa ngedapetin segala yang diberikan Allah Swt. jika kita nggak ngikutin prosedur yang ditetapkan oleh Allah Swt. untuk meraih cintaNya? Plis deh.
Kalo kita pengen dapetin pahala di bulan Ramadhan karena cinta kita kepada Allah Swt., maka untuk ngedapetin segala yang Allah berikan buat kita karena cintaNya kepada kita, tentunya kita harus meraihnya dengan aturan yang sudah dijelaskan melalui tuntunan Allah dan RasulNya. Kalo nggak, pasti cinta kita eror deh. Tul nggak?
Allah sayang banget sama kita
Sobat muda muslim, alhamdulillah sampai juga kita di Ramadhan ini. Bulan yang setiap harinya Allah berikan kemudahan bagi kita untuk meraih pahala yang sudah disiapkan untuk kita. Pahala yang banyak. Ampunan yang besar. Bahkan di bulan ini pun Allah memberikan ‘super bonus’ dengan diturunkannya Malam Kemuliaan alias “Lailatul Qodar”. Jika kita mendapatkannya dan ketika itu kita sedang beribadah kepada Allah Swt., insya Allah pahala kita layaknya orang yang beribadah selama 1000 bulan. Subhanallah.
Allah Swt. berfirman (yang artinya): Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS al-Qadr [97]: 1-5)
Abu Hurayrah ra berkata, bersabda Rasulullah saw.:”Siapa saja yang bangun pada malam Qadr karena dorongan iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosanya yang lalu.” (HR Bukhari, Muslim)
Lailatul Qadr adalah malam yang penuh berkah dan rahmat dari Allah Swt. Oya, Qadr itu punya makna al-Manzilah yang artinya kedudukan atau derajat. Selain itu qadr juga bermakna asy-Syarif dengan arti kemuliaan. Tuh catet lho. Jangan lupa ya…
Abu Bakar al-Warraq menjelaskan tentang kenapa dinamai dengan Lailatul Qadr, beliau menyebutkan bahwa alasannya adalah karena pada malam tersebut diturunkan sebuah kitab yang mempunyai Qadr (kemuliaan) oleh malaikat yang mempunyai Qadr, kepada Rasulullah saw. yang mulai dan untuk umat yang mulia pula. Subhanallah...
Entah, jika tidak ada Ramadhan, mungkin kita kebingungan gimana caranya ngebersihin diri kita yang banyak dosa ini. Ini sekaligus menunjukkan bahwa Allah Swt. tuh sayang banget sama kita, kaum muslimin. Karena dengan Ramadhan, kita bisa berlomba meraih pahala yang tebarkan karena kecintaan Allah Swt. kepada orang-orang yang beriman. Dan, ada nilai plus lagi buat kita. Mumpung diberikan kesempatan untuk menikmatinya, kita harus mengerahkan segala daya upaya agar bisa meraih cintaNya. Agar kita menjadi orang-orang yang bertakwa kepadaNya. So, nggak jaman lagi kalo ada di antara kita yang nggak puasa, udah ketinggalan jaman kalo ada kita-kita yang puasanya getol tapi pacarannya juga hot. Semoga kita terhindar dari segala perbuatan maksiat yang bisa mengurangi atau bahkan membakar pahala puasa kita jadi abu. Naudzubillahi min dzalik.
Sobat muda muslim, Emang sih, kalo maksiat, meski di luar bulan Ramadhan tetep nggak boleh. Tepatnya apapun jenis perbuatan maksiatnya, tetep haram untuk dilakukan. Lebih-lebih di bulan Ramadhan, kayaknya lebih nggak pantes lagi kalo itu dilakukan. Tul nggak? Itu sebabnya, jangan nekatz untuk melakukan maksiat.
Kalo puasa nggak menjadikan kita mawas diri, nggak menjadikan kita malu, bahkan nggak menjadikan kita jadi anak shaleh, itu berarti ada “apa-apanya”. Sebab, seharusnya kan puasa bisa menjadi perisai kita dari berbuat yang nggak bener. Puasa adalah tameng kita.
Sabda Rasulullah saw.: Puasa adalah perisai (dari api neraka). Jika seseorang di antara kalian berpuasa, janganlah berkata kotor dan bertengkar. Jika dimaki-maki orang lain, katakanlah: ‘Saya sedang berpuasa’ (HR Bukhari)
Diriwayatkan pula dari Abu Hurayrah r.a.: Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa tidak meninggalkan dusta dan berbuat buruk pada bulan Ramadhan, Allah tidak butuh kepada usahanya meninggalkan makan dan minum. (HR Bukhari)
Nah lho. Hadis ini memberikan sinyal buat kita, bahwa kalo kita masih tetep kuat maksiat meski sedang puasa, maka jangan harap kalo puasa kita mendapat berkah dari Allah Swt. Ih, naudzubillahi min dzalik.
Oke deh, karena Allah Swt sayang banget sama kita, maka sudah sepantasnya kita berusaha utuk meraih cintaNya di bulan Ramadhan ini. Insya Allah kita bisa. [solihin: sholihin@gmx.net]
Langganan:
Postingan (Atom)