Jumat, 09 April 2010

Cowok, temenan yuk!

Emangnya kalo nggak temenan sama cowok, apaan dong? Jangan salah, di beberapa kalangan terutama pengusung ide feminisme, mereka menganggap bahwa cowok adalah rival atau saingan cewek dalam banyak hal. Cowok tuh makhluk paling nyebelin dan penjajah sedunia. Makanya, kaum feminis berusaha sok tegar hidup tanpa cowok karena mereka nggak mau dijajah sama makhluk berjenis cowok. Masa sih sampe segitunya?
Di pihak lain, ada sekelompok cewek yang ganjen bin lembeng (ini temennya ganjen loh) tergantung banget sama yang namanya cowok. Seakan-akan mereka ini nggak bakal bisa survive tanpa cowok. Cowok adalah makhluk perkasa yang akan memperlakukan mereka ibarat putri dari kahyangan. Cewek jenis ini merasa butuh dimanja dan disayang oleh cowok all the time.
Waduh, kayaknya kedua kutub di atas ekstrim banget ya. Trus, gimana sih seharusnya kamu sebagai kaum cewek kudu bersikap terhadap cowok? Lanjut aja bacanya ya.
Cowok-cewek, partner-an
Allah Swt. berfirman: “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara” (QS al-Hujuraat [49]: 10). Seorang mukmin dengan mukmin lainnya (tentu termasuk mukminah) adalah bersaudara. Jadi, laki-perempuan juga bersaudara asal mereka beriman kepada Allah SWT. Maksudnya saudara di sini bukan kayak kakak or adik kandung, tapi saudara seiman dalam Islam.
Saudara? Indah nian ungkapan ini untuk menggambarkan posisi antara laki dan perempuan, cowok dan cewek. Mereka berdua bukan musuh satu sama lain yang saling berebut pengaruh dan kekuasaan. Bila pun yang satu menjadi pemimpin terhadap yang lain, tak akan ada ungkapan ‘ya gitu itu kalo pemimpinnya laki-laki’. Masalahnya bukan laki atau perempuan, tapi aturan apa yang diterapkan dalam periode kepemimpinan itu.
Cowok adalah mitra sejajar bagi cewek. Ia tidak lebih tinggi atau pun lebih rendah daripada cewek. Memang sih, di beberapa hal cowok diberi kelebihan oleh Allah dalam hal keperkasaan fisik dan fungsi sebagai pemimpin. Meskipun demikian, perkasanya cowok bukanlah untuk menindas cewek. Begitu juga ketika ia menjadi pemimpin bukan pula untuk mendzalimi yang dipimpin.
Begitu juga bagi para cewek. Tidak lantas karena fitrahnya lembut, cewek jadi lemah dalam segala hal. Pasrah saja ketika ia didzalimi dan diperlakukan semena-mena. Kamu tahu ibunda Khaulah binti Tsa’labah yang berani menegur pemimpin negara selevel Umar bin Khaththab? Beliau ini adalah seorang wanita tua yang ketika berpapasan dengan amirul mukminin, ia berani menegur dan menasihatinya agar bertakwa di dalam memimpin umat. Tangguh banget nih cewek. Dan kamu tahu apa tanggapan Umar bin Khaththab? Ia tertunduk, mendengar dengan takzim nasihat wanita tua ini.
Bayangkan, kalo kamu sebagai cewek melakukan hal yang sama pada pak presiden atau bupati deh yang paling dekat dengan tempat tinggalmu. Kamu sebagai cewek menasihati bapak-bapak pejabat ini untuk bertakwa dengan menjalankan syariah Islam dalam naungan Khilafah. Hayooo…berani nggak?

Cowok, bukan musuh cewek
Sebelum paham Islam, saya dulu sempat berpikir bahwa cowok itu selalu mendominasi dalam kehidupan cewek. Makanya saya pingin melakukan sebaliknya. Jadi ketua kelas plus juara kelas, saya lakoni untuk membuktikan bahwa cewek juga bisa sebaik cowok dalam hal prestasi dan kepemimpinan. Kalo ngomong, saya paling ogah berlembek-lembek karena itu cuma membikin cewek terlihat ganjen dan lemah. Saya dulu sempat merasa bahwa dunia akan baik-baik saja tanpa cowok. Wiih….ekstrim banget ya?
Untunglah, ketika SMA saya insaf. Islam telah menunjukkan jalan kebenaran bagaimana kedudukan cowok dan cewek sesuai dengan tempat dan fitrahnya. Kedua makhluk ini bukan musuh satu sama lain. Tidak ada yang lebih baik di antara dua jenis ini kecuali takwanya. Iya kan?
Dengan pemahaman Islam yang benar, ide gender (baca: jender) dan feminisme nggak bakal bisa menjajah otak dan pemahaman kamu. Agama yang biasa dituding sebagai biang munculnya budaya patriarki (laki-laki dianggap yang paling unggul), selalu mengarah ke Islam, bisa kamu patahkan dengan mudah.
Memang sih pada faktanya ada beberapa ketidak-idealan dalam pelaksanaan. Salah satu teman saya ada yang curhat kalo cowok aktivis rohis itu menyebalkan. Hanya karena sedikit salah paham dengan pihak aktivis rohis cewek, mereka ‘balas dendam’. Ketika ada acara out bound ke luar kota, para cewek dicuekkin. Para cewek ini yang notabene muslimah berjilbab dan berkerudung, tidak diberi tempat wudhu yang tertutup. Mereka dibiarkan saja tanpa diurusi oleh panitia cowok. Duh…
Begitu juga yang cowok. Saya sering mendapat laporan dari kubu ini bahwa para cewek itu jahat-jahat dan suka memaksakan kehendak. Kalo maunya begini pasti minta dituruti begini. Sulit ditawar. Jadinya mereka malas berurusan dengan cewek aktivis rohis dan memilih kerja sama dengan pihak lain. Nah, loh…
Cowok itu bukan musuh cewek. Kalo pun ada cowok yang semena-mena memperlakukan cewek, itu pasti karena ia belum paham Islam dengan benar. Atau pun bila ia mengaku paham Islam, pasti ia sedang lalai. Tugas kamu sebagai saudara seiman untuk mengingatkan kalo kondisi seperti ini terjadi.
Penyebab cowok baik jadi langka
Cowok emang banyak banget bertebaran di muka bumi ini. Tapi cowok yang baik, cerdas, sopan, alim, sholeh dan hanif (lurus) kayaknya ini jenis yang hampir punah dari muka bumi ini. Ibarat mencari jarum di tumpukan jerami, cowok beginian emang nggak mudah ditemui. Tahu nggak kamu apa penyebabnya?
Yup, betul banget. Sistem Kapitalisme-Sekulerisme. Inilah biang kerok semua masalah di dunia ini. Cowok baik menjadi langka bukan tanpa sebab. Mereka ini sudah hampir punah karena sistem yang ada membuat cowok-cowok baik tak mendapat kesempatan untuk tumbuh dan berkembang. Yang menjamur malah cowok-cowok ala manekin yang oke bodinya tapi kosong otak dan imannya. Ihh…males banget kan jadinya.
Cowok tipe ini akan dengan enaknya menganggap cewek sekadar mainan untuk diperlakukan semaunya sendiri. Ini namanya cowok jadi-jadian. Karena kalo cowok beneran yang gentle, maka ia akan memperlakukan cewek dengan penuh hormat. Meskipun kuat dan perkasa, cowok akan berlaku lemah lembut pada cewek dan tidak akan menyakitinya meskipun sedikit. Masalahnya, cowok kaliber ini emang nggak mudah dicari ya? Hayo…kamu pasti lagi mengangguk-angguk tanda setuju.
Sistem rusak yang diterapkan pada kita saat ini membuat cowok-cowok nggak dewasa. Tubuh aja yang digedein tapi kepribadian dan mentalnya masih kayak baby. Usia SMP dan SMA yang seharusnya udah tahu tanggung jawab dan kewajiban, eh malah disia-siakan. Apa-apa mama, dikit-dikit papa. Nggak punya sikap dan pendirian. Udah mending begitu, nggak sedikit juga yang malah terjerumus dalam narkoba dan pergaulan bebas. Jadinya nggak asyik banget punya temen cowok model begini.
Bila saja kita mau mencampakkan sistem rusak ini ke tong sampah peradaban, bisa dipastikan cowok jadi-jadian ala manekin ini akan hilang bin raib. Sebagai gantinya, maka cowok-cowok oke akan hadir di dunia dan tipe ini nih yang asyik buat temenan. Kamu tahu sahabat Rasulullah saw. yang bernama Ali bin Abi Thalib? Cowok imut ini datang ke hadapan Rasulullah untuk menjadi umat beliau. Karena masih belum baligh, Rasulullah saw. menganjurkan untuk minta ijin dulu ke ortunya. Ali bin Abi Thalib pergi tapi tak lama kemudian ia kembali. Apa katanya?
“Ya Rasulullah, ketika Allah menciptakan aku, orang tuaku tak diminta persetujuannya. Mengapa sekarang ketika aku ingin menjadi hambaNya dan memeluk agamaNya, harus meminta ijin dulu ke orang tuaku? Sungguh, aku tak butuh ijin mereka.”
Subhanallah banget! Belum lagi cowok oke bernama Mush’ab bin Umair. Dia ini sudah tampan, kaya raya dan cerdas. Ketika nur Islam menyentuhnya, ia rela meninggalkan semua kemewahan dunia demi perjuangan dan dakwah Islam. Ini belum seberapa. Kamu tahu siapa cowok tangguh dan keren penakluk Konstnatinopel? Yup, Muhammad al Fatih namanya. Umurnya masih 24 tahun tapi sudah menjadi panglima perang yang ahli dalam siasat menaklukkan musuh. Kedekatannya pada Allah tak terkatakan lagi. Lalu ada juga Muadz bin Jabal yang tampan, menarik, bermata jeli, bergigi putih dan bila berbicara seakan-akan ada untaian cahaya dan keluar dari mulutnya. Wiih pasti jadi idola cewek mana pun.
Masih seabrek cowok-cowok oke yang jumlahnya bisa ribuan bila disebutkan satu per satu. Apa penyebab dari semua fenomena unik ini? Ternyata cowok-cowok ideal di atas cuma bisa dihasilkan oleh sebuah kondisi tertentu di mana Islam diterapkan secara sempurna sebagai ideologi. Maksudnya Islam bukan hanya ada di pojok-pojok masjid saja tanpa ada aplikasi di bidang politik, pendidikan dan pemerintahan. Karena bila Islam cuma diambil sholat, zakat, puasa dan ada di masjid saja, nggak heran bila cowok generasi Si Boy yang STMJ merebak. STMJ = Sholat Terus Maksiat Jalan, gubraks!

Cowok, teman dalam dakwah
Meskipun langka, bukan mustahil tipe cowok ini ada di sekeliling kamu. Udah tampan, cerdas, juara kelas, kaya, takwa dan aktivis dakwah. Wuih, dijamin jadi idola nih. Tapi wait! Tunggu dulu, girls. Usia kamu saat ini yang masih imut, jangan ngeres dulu mikir yang nggak-nggak ya. Seberapa okenya cowok yang ada di sekolah kamu, luruskan niat. Kamu kontak dengannya karena ada urusan dakwah atau sekolah. Bukan urusan pribadi yang nggak ada hubungannya dengan hal-hal di atas.
Nggak boleh ada acara pinjam catatan kimia padahal itu bisa kamu pinjam dari teman sesama cewek. Nggak boleh ada sok ada acara rapat padahal kamu cuma pingin melihat senyum manisnya. Walah! Ingat, bersihkan hati jangan kau kotori. Hati-hati dengan niat yang emang nggak kelihatan ikhlas nggaknya. Jangan sampai yang kamu lakukan ternyata bukan karena mengharap ridho Allah. Kamu jadi nggak bakal dapat apa-apa bila niatmu salah.
Oya, hati-hati juga dengan virus VMJ yang kerap menjangkiti pengemban dakwah. Luruskan niat. Urusanmu dengan cowok adalah sebatas berteman dan berpartner dalam kebaikan. Paling banter bersaudara dalam ikatan akidah Islam. Meskipun wajib menjalin ukhuwah, jangan kebablasan saling kunjung sana kunjung sini dengan alasan menjaga uyhuwah. Berteman dengan cowok adalah dalam rangka kemaslahatan bersama dalam lingkup sosial bukan lingkup pribadi. Ingat ini ya.
Intinya, cowok dan cewek itu emang saling melengkapi satu sama lain. Mereka diciptakan oleh Allah bukan untuk saling menyakiti atau pun menguasai satu pihak terhadap pihak yang lain. Mereka ini adalah manusia-manusia pelanjut risalah dakwah untuk memakmurkan bumi dan seisinya. Jadi, oke banget kan Islam dalam menempatkan posisi cewek dan cowok? Tentu dong. Makanya ayo kita ramai-ramai campakkan ide gender dan feminisme terus kita ambil Islam saja sebagai ideologi. Setuju? Akurrrrr..!

The Sweetest Dream

Mimpi, ya, apa sih mimpi itu? Apakah bunga-bunga tidur yang menghiasi setiap malam ketika kita beristirahat? Mungkin mimpi ketemu doski di sekolah, mimpi ketemu sahabat kita yang lama tak berjumpa, mimpi makan blackforest yang sudah lama kita idam-idamkan ataukah mimpi-mimpi yang lain?
Itu semua memang bisa disebut mimpi. Kerja sel syaraf otak kita ketika tidur bertemu dengan pengalaman-pengalaman masa lalu atau keinginan terpendam yang belum sempat terwujud. Tapi bahasan kita bukan mimpi yang itu, boys en gals. Tapi mimpi yang bermakna cita-cita, keinginan, harapan, ambisi, dan semacam itulah. Mimpi yang berusaha kita raih dan wujudkan nyata dalam kehidupan.
Omong-omong, apa sih mimpi terindah kamu? Jangan-jangan kamu malah nggak punya mimpi. Membiarkan hidup mengalir apa adanya saja. Tanpa mimpi, tanpa cita-cita dan tanpa harapan. Eh, jangan-jangan kamu malas bermimpi lagi karena beranggapan semua mimpi-mimpi kamu adalah sia-sia dan nggak ada yang jadi kenyataan. Wah...jangan pesimis gitu dong.

Semua punya mimpi
Mimpi, siapa sih nggak punya mimpi? Pengen tajir, terkenal, pandai, sukses dan keinginan yang lainnya. Rasa ingin ini lumrah bin wajar banget ada pada diri manusia, termasuk kita-kita ini. Ah, jadi inget Om Chairil Anwar yang dalam salah satu puisinya ingin hidup seribu tahun lagi.
So, siapa sih yang boleh punya mimpi? Ehm, rasa-rasanya bukan cuma pujangga atau orang tertentu aja. Semua berhak dan boleh punya mimpi. Kaya, miskin, tua, muda, cewek, cowok, cakep, jelek, semua boleh punya mimpi. Di jaman apa-apa serba mahal ini, mimpi adalah hal dalam hidup yang gratis. Nggak perlu beli. Kita bisa bermimpi menjadi atau meraih apa pun yang kita mau tanpa takut kena pajak dan disirikkin orang.
Kamu tahu ide menciptakan pesawat terbang? Penemu ide itu, Orvilee Wright dan Wilbur Wright pernah bermimpi untuk bisa terbang. Karena nggak mungkin bagi manusia untuk punya sayap, maka dengan akalnya ia menciptakan teknologi yang memakai prinsip dasar sayap burung untuk pesawat. Bayangkan seandainya para penemu itu nggak punya mimpi dan bersikap ‘apa adanya’ aja ketika transportasi masih berupa sapi atau kuda yang menarik gerobak. Kamu nggak bakalan tahu asyiknya terbang (padahal sekarang aja saya juga belum tahu tuh rasanya naik pesawat terbang hehehe).
Kamu kenal juga kan dengan Thomas Alfa Edison? Yup, dengan mimpinya untuk menjadikan dunia lebih terang pada malam hari, ia berusaha menciptakan lampu pijar alias bohlam. Kayaknya nih, tanpa dorongan mimpi besarnya itu, mungkin aja kan kita kini masih pake obor dan lampu teplok?
Tapi yang paling hebat dan nggak ada duanya tuh mimpi Rasulullah untuk menyatukan umat dalam naungan satu sistem, Islam. Betapa beliau mengerahkan seluruh daya upaya untuk mewujudkan mimpinya. Nggak peduli dilempari batu, kotoran hewan, dan ancaman dari musuh-musuhnya, beliau maju terus pantang menyerah untuk mendobrak sistem kufur dan menggantinya dengan sistem Islam saja.
So, mimpi tiap orang pastilah tak sama. Ketika kamu mimpi ingin jadi ahli nuklir yang bertakwa tentu tak sama dengan mimpi temanmu yang ingin jadi rocker beriman ala sinetron Kiamat Sudah Dekat, misalnya. Atau kamu yang punya mimpi dapat beasiswa untuk melanjutkan sekolah sampai tinggi, eh, temanmu yang mendapat kesempatan itu di tangan, malah melepaskannya. Ada loh yang seperti ini. Ternyata ia lebih memilih menikah dan ikut suami ke lain kota daripada mengambil tuh beasiswa. Padahal yang ngiler pingin banget dapetin tuh beasiswa udah ngantri, eh...enak aja dianya melepas.
Hal ini juga sah-sah aja kok. Nggak salah. Itu karena memang mimpi tiap orang sungguh beraneka ragam. Tak sama. Jadi, mimpi itu adalah hal yang manusiawi ada pada diri kita. Bahkan, manusia yang normal mustahil hidup tanpa mimpi, cita-cita or harapan yang ingin diraih. Kamu bisa bermimpi hal-hal yang mubah seperti pingin kaya, punya rumah mewah, harta berlimpah, suami/istri cakep dan tajir dll. Atau yang agak bergengsi dikit, kamu bermimpi jadi dokter, insinyur, ahli nuklir yang bertakwa de el-el. Tapi ada juga yang mimpinya high quality dengan menjadi remaja gaul, syar’i, dan mabda’i (Ehm... ini sih motto Q dong ya?)hehe...

Kenapa harus punya mimpi?
Orang hidup tuh kudu punya mimpi. Karena manusia adalah makhluk yang dinamis. Dengan mimpi yang kita punya, ada ‘sesuatu’ yang membuat kita berusaha ingin meraihnya. Bo’ong banget kalo kamu bilang punya mimpi jadi ahli komputer tapi tak ada upaya untuk mewujudkannya. Kamu pilih habiskan waktu untuk bermalas-malasan, hura-hura menghabiskan waktu untuk nonton film, dugem, dan segala hal yang tak ada kaitannya dengan mimpimu.
Lebih lucu lagi kalau bermimpi masuk surga tapi asyik mojok berduaan dengan pacar dan tiap hari melakukan maksiat. Udah sholat cuma dua kali setahun, pas waktunya sholat Idul Fitri dan Idul Adha aja, puasa Ramadhan juga banyak batalnya. Kalo itu dilakukan sampe kamu out dari dunia ini tanpa sempet tobat, wah itu bukan mimpi masuk surga, tapi isyarat dapat tiket ke neraka secara express. Naudzubillah.
So, gimana dong supaya antara mimpi matching dengan kenyataan? Jika kamu ingin jadi ahli komputer, kamu harus menciptakan jalan ke arah sana untuk mempermudah mewujudkan mimpimu. Mulai rajin-rajin aja pegang komputer meski pinjam teman or jadi penjaga warnet misalnya. Kamu kudu cinta dan sering bergaul akrab dengan segala sesuatu yang berbau komputer. Jangan sampe kamu nggak bisa bedain yang namanya monitor dan CPU. Walah?
Begitu juga jika kamu pingin masuk surga. Tempuh semua jalan yang bisa mengantarkan kamu ke surga. Gimana caranya? Pertama banget nih: Ngaji. Sebab dengan ngaji or belajar, ibaratnya kamu dapat peta untuk menuju surga lewat jalur yang baik dan benar.
Bahkan aneh banget kalo ada orang hidup tapi tak punya mimpi. Tanpa mimpi, bagaikan sayur tanpa garam. Hambar, man! Tanpa mimpi, kamu nggak bakal punya sesuatu sebagai standar untuk diraih di masa depan. Tanpa mimpi, kamu akan jadi mayat yang hidup. Nggak ada upaya untuk memperbaiki diri dan nasib kamu.
Tanpa mimpi, kamu akan melakoni hidup ‘apa adanya’. Dalam arti yang negatif. Kamu yang sekarang merasa menjalani hidup serba sulit di era kapitalisme ini, jadi pasrah. Sudahlah BBM naik, uang saku dikurangi karena ortu juga pailit, eh...ternyata harga-harga yang lain ikut selangit. Mau beli buku mahal, jajan mahal, semua mahal. Bukan naik sih katanya, hanya menyesuaikan harga dengan kenaikan BBM. Dunia kamu jadi terasa sangat sempit. Kamu ‘pasrah jendral’ dengan kondisi tak ideal ini. Tak ada keinginan untuk mengubahnya meski barang sedikit pun. Bila hidup jadi semakin sulit dan sulit aja, bakalan cepet putus asa bagi kamu yang nggak punya mimpi untuk berubah.
Ini beda banget dengan kamu yang sedari awal sudah punya dan tahu apa mimpi-mimpinya dalam hidup. Dengan mimpi, kamu berusaha meraih yang terbaik dalam hidupmu. Mimpi ingin pintar, kamu wujudkan dengan belajar rajin. Mimpi ingin sukses, kamu ujudkan dengan kerja keras secara cerdas dan disiplin. Mimpi ingin mengubah kondisi masyarakat yang sekarat karena tak melaksanakan syariat, kamu ujudkan dengan rajin ngaji dan memahami kondisi umat sebagai langkah awal untuk perubahan.
See, dengan mimpi kamu jadi punya arah mau kemana dan ngapain dalam hidup ini. Bukan sekadar ikut arus. Kalo angin ke barat ikut ke barat, kalo angin ke timur ikut ke timur.
Dengan mimpi kamu jadi percaya diri. Di saat semua menikmati janji-janji semu demokrasi, kamu tampil cerdas dengan mencampakkannya. Di saat semua berpikir masalah bangsa ini bersumber di akhlaknya, kamu dah paham kalo itu cuma ekses or akibat sampingan dari permasalahan yang lebih mendasar, yakni tak diterapkannya Islam sebagai ideologi negara.
Dengan mimpimu, kamu punya resep yang ces pleng alias jitu untuk menyembuhkan masyarakat kita yang sakit ini. Kamu pun jadi remaja bukan yang biasa-biasa aja, tapi salah satu sosok perubah yang dengan mimpinya jadi punya nilai lebih pada semangat dan aktivitasnya di hadapan Allah. Hmm...ternyata punya mimpi bisa begitu dahsyat kan?

Mimpi yang baik dan bener
Idih...emang ada mimpi yang baik dan bener? Jelas ada dong. Ujian aja kamu ngejawabnya kudu baik dan bener, apalagi menetapkan mimpi kamu. Tanpa jawaban yang baik dan bener, pasti ujian kamu nggak lulus.
Begitu juga mimpi. Tanpa mimpi yang baik dan bener, kehidupan kamu juga pasti nggak baik dan bener. Trus, gimana sih punya mimpi baik dan bener itu?
Mimpi yang baik dan bener itu kalo ia realistis, yaitu antara mimpi-mimpi kamu dan kemampuan harus seimbang. Sesuatu yang tidak mudah dan tidak sukar untuk dicapai. Karena kalo mimpi itu mudah dicapai, kamu bakal nyepelein dan ceroboh, menganggap enteng mimpi or cita-cita kamu dalam hidup. Begitu sebaliknya. Jika kamu mempunyai mimpi yang tinggi tapi kemampuan minim, ini bisa bikin kamu putus asa. Jadi gimana dong? Kalo mimpi kamu tinggi, berarti kamu kudu mengasah kualitas diri kamu juga tinggi. Biar imbang dengan mimpi kamu, gitu loh.
Trus, ada kalanya mimpi itu bisa terwujud saat kita masih hidup. Tapi ada kalanya pula mimpi itu begitu besar sehingga butuh waktu lebih panjang daripada umur kita untuk mewujudkannya. Apalagi bila mimpi itu adalah mimpi kolektif yang dipunya oleh kaum muslimin. Wuih, keren banget kan?
Ketika Rasulullah saw. masih hidup, beliau punya ‘mimpi’ bisa menaklukkan Persia dan Romawi. Padahal Persia dan Romawi di jaman itu ibaratnya Uni Sovyet dan Amerika, super power, dibandingkan dengan negara Islam yang masih baru berdiri dan kecil.
Tapi mimpi Rasulullah bukan mimpi asal mimpi. Meski beliau tak sempat menyaksikan ditundukkannya kedua negara adidaya itu, tapi Muhammad al-Fatih mewujudkan mimpi Rasulullah menjadi nyata ketika menaklukkan Konstantinopel alias Byzantium yang merupakan pusat kekaisaran Romawi Timur pada 1453 M (857 H).
Sobat, Muhammad al-Fatih, pemimpin para pemuda yang usianya belum genap 23 tahun telah dimuliakan oleh Allah melalui pujian Rasulullah saw. sebagai pembebas Konstantinopel: “Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin (yang membebaskan) Konstatinopel dan sebaik-baik tentara adalah tentaranya.” (HR Ahmad)
Nah, sekarang tinggal Roma (Vatikan), yang belum ditaklukkan. Semoga kita semua bisa membebaskannya dari kekufuran dan menjadikannya wilayah Islam. Siap?
Bila iya, maka kamu pasti punya mimpi (baca: keinginan) yang sama dengan mimpi Rasulullah. Mimpi ingin mengembalikan kehidupan Islam dengan syariah dan Khilafah. Mimpi ini begitu besar dan mulia. Sejak diruntuhkannya institusi kekhilafahan Islam pada 3 Maret 1924 lalu, kaum muslimin yang sadar kewajiban untuk menegakkannya lagi, bermimpi or bercita-cita bisa hidup mulia dalam naungan Khilafah Islam.
Bagi sebagian orang yang tak tahu bagaimana cara menempuhnya secara riil dan gamblang, maka mereka berpikir mimpi ini adalah mimpi yang utopis, sia-sia or cuma khayalan. Tapi bagi yang tahu dengan jelas langkah-langkah apa yang kudu ditempuh, hambatan apa saja yang menghadang, peluang-peluang yang harus diciptakan, tentu merasa yakin sekali bahwa Khilafah Islam hanya tunggu waktu. Apalagi bila pertolongan Allah sudah berbicara, udah deh, siapa yang bakal bisa membendungnya?
So, jangan takut untuk bermimpi yang tinggi. Apalagi kalo mimpi itu sesuai banget dengan mimpi yang dipunya Rasulullah tercinta. Jadi kalo ada yang bertanya “what’s your sweetest dream?” Jawab dengan yakin, “Tegaknya Khilafah Islamiyah”, tentu. Tetap semangat!!!